Perang ini
dan peperangan lainnya di bumi
nusantara benar-benar menguras
kocek Belanda sehingga perlu
dicari upaya untuk memulihkan
keuangan Pemerintah Hindia
Belanda. Tanam paksa ini berlangsung
dari tahun 1831 sampai tahun
1870 dan primadona dari Bumi
Priyangan yang subur ini adalah
kopi, teh, dan kina. Di Kota
Bandung tempat penampungan
sekaligus tempat pengemasan
hasil bumi ini (terutama kopi)
berada lebih kurang 1 km. disebelah
utara Jalan Raya Pos, yaitu
di lokasi yang sekarang menjadi
Gedung Balaikota. Gedung pengemasan
kopi tersebut dikenal dengan
nama Koffie Pakhuis.
Jarak dari gudang kopi dan
Jalan Raya Pos tentu menjadi
sangat penting untuk pengiriman
hasil bumi. Jalur penghubung
antara kedua tempat tersebut
adalah jalan setapak berlumpur
yang biasa dilalui oleh pedati
kuda dan dikenal dengan nama
Pedati Weg (Jalan Pedati).
Jalan inilah yang kelak dikenal
bernama Jalan Braga.
Dengan berakhirnya
Tanam Paksa pada tahun 1870,
terjadi perubahan-perubahan di
bidang politik. Polik Tanam Paksa
diganti dengan "Politik Balas
Budi". Dua aspek penting dari
Politik Balas budi ini adalah
swastanisasi dan desentralisasi.
Swasta diberikan peluang besar
untuk berperan dalam perekonomian.
Mengetahui keadaan Bumi Parahyangan
yang subur ini, maka berduyun-duyunlah
para pengusaha pertanian berusaha
di seputar Bandung. Keadaan perekonomian
pada saat itu rupanya sangat
baik sehingga para pengusaha
tersebut menjadi kaya-raya. Sebagian
dari kekayaan tersebut telah
didonasikan untuk perkembangan
dan kemajuan Kota Bandung.
Keberadaan para pengusaha tersebut
yang lebih dikenal sebagai Preanger
Planters tentunya membutuhkan
sarana-sarana untuk mereka bersosialisasi
yang disebut Societeit. Tahun
1879, Societeit Concordia disahkan
sebagai badan hukum dan setelah
beberapa kali berpindah tempat
akhirnya dipilihlah Gedung Concordia,
yang sekarang menjadi Gedung
Merdeka, sebagai pusat kegiatannya.
Desentralisasi pemerintahan membawa
hasil sehingga beberapa puluh
tahun kemudian tepatnya 1 April
1906 berdirilah Gemeente Bandoeng
yang memperoleh otonomi untuk
mengatur Kota Bandung sendiri.
Jalan Pedati (yang kemudian menjadi
Jalan Braga) berkembang secara
lambat dari hanya jalan pintas
semata menjadi kawasan pemukiman.
Pada tahun 1874 barn ada enam
atau tujuh rumah permanen diselingi
beberapa warung beratap rumbia.
Bila malam tiba, digunakan obor
sebagai alat penerangan. Rumah-rumah
batu tersebut menempati kapling-kapling
yang luas sehingga antara bangunan
yang satu dengan yang lain tidak
berimpitan (renggang). Halaman
depanpun luas dan bisa didapati
adanya gudang-gudang atau paviliun
di samping bangunan rumah-rumah
tersebut.
Nama "Braga" sendiri menimbulkan
beberapa kontroversi. Ada kalangan
yang mengatakan, Braga berasal
dari sebuah perkumpulan drama
Bangsa Belanda yang didirikan
pada tanggal 18 Juni 1882 oleh
Peter Sijthot, seorang Asisten
Residen, yang bermarkas di salah
satu bangunan di Jalan Braga.
Diduga sejak saat itulah nama
Jalan Braga digunakan. Pemilihan
nama "Braga" oleh perkumpulan
drama ini diperkirakan berasal
dari beberapa sumber yang erat
kaitannya dengan kegiatan drama,
antara lain nama Theotilo Braga
(1834 -1924), seorang penulis
naskah drama, dan Bragi, nama
dewa puisi dalam mitologi Bangsa
Jerman.
Sementara itu ada versi lain
dari nama "Braga". Menurut ahli
Sastra Sunda, Baraga adalah nama
jalan di tepi sungai,

sehingga
berjalan menyusuri sungai disebut
ngabaraga. Sesuai dengan perkembangan
Jalan Braga (terletak di tepi
Sungai Cikapundung), yang kemudian
menjadi tersohor ke seluruh Hindia
Belanda bahkan ke manca negara,
Jalan Braga menjadi ajang pertemuan
dari orang-orang, dan ngabaraga
tadi berubah menjadi ngabar raga,
yang lebih kurang artinya adalah
pamer tubuh atau pasang aksi.
Memang di masa-masa sebelum PD
II, disaat Jalan Braga sedang
jaya jayanya, jalan ini dijadikan
ajang memasang aksi menjual tampang
sehingga dikenal juga istilah
khas Bragaderen. Perkataan deren
dalam kamus Bahasa Belanda kurang
menjelaskan arti kata penggabungan
Braga dan deren sehingga disimpulkan,
Bragaderen berasal dari kata
paraderen yang artinya berparade,
jadi Bragaderen lebih kurang
berarti berparade di Jalan Braga.
Peristiwa Ketiga adalah tercetusnya
ide untuk memindahkan ibukota
Pemerintahan Kolonial Hindia
Belanda dari Batavia (Jakarta)
ke Bandung. Rencana besar ini
berdasarkan karena alasan pertahanan.
Sebagian dari ide ini sempat
terealisir, seperti dijadikannya
Kota Cimahi sebagai kota garnisun
dengan perwiranya yang tinggal
di Bandung, juga dipindahkannya
pabrik senjata dan mesiu dari
Jawa Timur ke Bandung (PINDAD
sekarang).
Gedung Sate yang sebenarnya akan
menjadi salah satu bangunan di
dalam kompleks pusat Pemerintahan
Hindia Belanda juga merupakan
bagian dari realisasi ide tersebut.
Swastapun ikut berpartisipasi,
sebagai pelopornya yaitu Pabrak
Minyak Insulinde yang memindahkan
kegiatannya ke Bandung. Gedung
yang kemudian pernah menjadi
Gedung Mapolwil di ujung Jalan
Braga, dibangun sebagai kantor
pabrik tersebut.
Ide besar untuk memindahkan ibukota
dari Batavia ke Bandung ini dilanjutkan
dengan ide besar lainnya, yaitu
menjadikan Jalan Braga sebagai
jalan perbelanjaan Bangsa Eropa
nomor satu di seluruh Hindia
Belanda atau de meest europeesche
winkel straat van Indie. Pekerjaan
besar yang melibatkan berbagai
kalangan ini ternyata lebih terlihat
realisasinya dan hingga kinipun
masih dapat kita lihat sisa-sisa
kejayaannya.
Penggolongan fisik bangunan di
Kota Bandung seperti tertulis
dalam Peraturan Bangunan Kabupaten
Bandung tahun 1920-an (Bouwverordening
Regentschap Bandoeng) adalah:
• Bandoengbouw
• Open
Westerse Bow (Bangunan Barat
Terbuka / Renggang)
• Gesloten
Chineese Bow (Bangunan Cina Tertutup
/ Rapat)
Untuk menjadikan Jalan Braga
menjadi de meest europeesche
winkel straat van Indie perlu
dilakukan perbaikan atau penyempurnaan
peraturan pembangunan karena
pada hakekatnya yang akan dibuat
di Jalan Braga adalah Gesloten
Westerse Zakenbouw (Bangunan
Perdagangan Bergaya Barat Tertutup
/ Rapat).
Langkah-langkah yang dilakukan
untuk merealisasikannya melibatkan
para pakar dari beberapa disiplin
ilmu, karena pada dasarnya Bangsa
Belanda belum mempunyai pengalaman
membangun Bangunan Barat Rapat
di daerah beriklim tropis. Pemecahan
teknis diberikan oleh seorang
pakar DR. Ir. C. P. Mom, yang
pada intinya dapat diuraikan
sebagai berikut:
- Dinding tebal
- Lantai bangunan
hares luas
- Atap tinggi
- Sebisanya
menggunakan bahan-bahan alam
- Penghawaan
dan penerangan siang hari secara
alami, agar panas tidak langsung
menyengat perlu diatur letak
dan bentuk jendela serta jendela
ventilasi. Karena itu penggunaan
kaca patri untuk jendela sebagai
elemen dekorasi, selain sebagai
lubang cahaya dan lubang hawa,
sangat digalakkan.
Selain hal-hal tersebut di atas,
perlu juga diatur kembali tata
letak bangunan. Bangunan-bangunan
yang semula renggang dan mempunyai
halaman depan ditata kembali
sehingga tidak mempunyai halaman
depan. Bangunan-bangunan berada
tepat di tepi jalan, demikian
juga keberadaan gudang-gudang
dan paviliun tidak lagi diperkenankan.
Bangunan-bangunan di Jalan Braga
diputuskan hares mempunyai jumlah
lantai satu atau dua, dengan
uraian:
- Bagi bangunan
berlantai satu, bagian depan
diperuntukkan bagi perdagangan
/ toko, dan bagian belakang diperuntukkan
bagi fungsi-fungsi lain, seperti:
rumah tinggal, gudang, kantor,
dan sebagainya.
- Bagi bangunan
berlantai dua, lantai bawah bagian
depan diperuntukkan bagi perdagangan
/ toko, dan bagian belakang serta
lantai atas diperuntukkan bagi
fungsi-fungsi lain.
- Bagi semua
bangunan, diharusklan mempunyai
etalase.
Usaha menjadikan Jalan Braga
sebagai pusat perbelanjaan nomor
satu di seluruh Hindia Belanda
ternyata disambut hangat oleh
berbagai kalangan dan lapisan
masyarakat. Para pengusaha perbelanjaan
yang eksklusif dan terkenal berbondongbondong
memindahkan tempat usahanya atau
membuka cabang di Jalan Braga,
Walaupun perintisan Jalan Braga
untuk menjadi pusat perbelanjaan
sudah dilakukan sebelum dicetuskannya
ide besar tadi, yaitu dengan
dibukanya Tiserba Hellermann
pada tahun 1894 dan disusul oleh
beberapa toko lainnya, tetapi
peningkatan kegiatan secara dramatis
terjadi setelah tahun 1920-an
yang secara kebetulan menjadi
momentum gerakan modernisasi
kota-kota besar di Hindia Belanda.
Beberapa bangunan dan perusahaan
layak diketengahkan disini karena
mempunyai kontribusi terhadap
sejarah dalam arti luas, baik
sejarah pergerakan kemerdekaan,
maupun perkembangan kebudayaan
serta sejarah perkembangan Kota
Bandung.
N. V. Fuchs
en Rens yang kemudian menjadi
P.T. Permorin adalah perusahaan
perakitan mobil pertama di Hindia
Belanda. Perusahaan ini didirikan
pada tahun 1919. Pada tahun yang
sama didirikan Kantor Gas Negara
yang menandai dijalankannya sistem
gas kota untuk seluruh Kota Bandung.
Sampai beberapa yahun terakhir
ini, gas kota masih berfungsi
dan jaringan pipa gas di seluruh
kotapun hingga kini masih berada
dalam keadaan baik. Sebelum tahun
1931 telah berdsiri Gedung Ons
Genoegen (YPK sekarang) tempat
berlangsungnya rapat politik
di masa pergerakan.
Di salah satu gedung di Jalan
Braga pernah berkantor Perusahaan
Asuransi "Indonesia" yang dimiliki
oleh Dr. S.A.M. Ratulangi. Perkataan "Indonesia" di
masa pergerakan adalah perkataan
tabu, sehingga tentu diperlukan
jiwa pejuang di dalam diri Dr.
Ratulangi untuk berani memberikan
nama "Indonesia" bagi perusahaannya.
Toko buku dan percetakan Van
Dorp & Co., yang menempati
Gedung Landmark sekarang, merupakan
tempat tersendiri sebagai sarana
penunjang kehidupan intelektual.
Sedangkan arloji dan jam buatan
Swiss yang terkenal hanya dapat
diperoleh di Toko Stocker yang
hingga sekarang masih dapat kita
lihat bangunannya.
Masa jaya Jalan Braga yang berlangsung
dari tahun 1920-an sampai dengan
masa dimulainya pendudukan Jepang
(1942), selain masih meninggalkan
bangunan-bangunan yang sebagian
masih utuh, juga meninggalkan
kenangan bagi mereka yang pernah
mengalami masa jayanya ini.
Berbicara mengenai Jalan Braga
adalah berbicara mengenai suasana
di suatu kawasan dan bukan hanya
membicarakan sepenggal jalan
dengan bangunan-bangunan kuno
di kiri-kanannya.
Suasana Braga ini diciptakan
antara lain oleh:
- Perbandingan
yang baik antara ketinggian bangunan-bangunan
dengan lebar jalan
- Adanya
tertib bentuk yang mengatur perbandingan
dari elemen-elemen bangunan,
baik secara mendatar maupun secara
tegak. Bangunan-bangunan di Jalan
Braga, terutama yang berlantai
dua, secara mendatar terdiri
dari bagian-bagian:secara tegak
bangunan di Jalan Braga mempunyai
tiang / kolom yang jaraknya diatur
berirama secara tetap.
- Selain itu,
bagian-bagian bangunanpun kaya
akan ornamen-ornamen atau hiasan-hiasan.
Keberadaan tertib bangunan ini,
tanpa menjadikan bangunan-bangunan
di Jalan Braga hares sama, sangat
membantu menciptakan suasana
dinamis. Sayang, pada perkembangannya,
ornamen-ornamen yang menghiasi
bagian-bagian bangunan sebagian
besar ditutupi oleh "topeng" yang
menyembunyikan wajah asli bangunanbangunan
ini. Irama-irama yang tercipta
menjadi tertutup oleh bahan-bahan
bangunan penutup yang umumnya
terbuat dari logam.
- Penataan
bangunan yang meliputi peralihan
dari bentuk-bentuk yang satu
ke bentuk-bentuk yang lain dikerjakan
dengan sangat cermat sehingga
kita tidak merasakan adanya kesemrawutan.
- Jika kita
amati, bangunan-bangunan di Jalan
Braga sebagian besar adalah bangunan
ganda serf di bawah satu atap
besar. Bangunan serf ini dapat
terdiri dari dua, tiga, empat,
bahkan lima. Dari bangunan serf
yang satu ke bangunan seri yang
lain yang tidak sama bentuknya,
diberikan peralihan yang dinyatakan
di dalam bentuk, misalnya perbedaan
ketinggian atap, celah-celah
peralihan, dan lain-lain.
- Apalagi di
masa lampau kebersihan bangunan
dan lingkungan sangat diperhatikan
sehingga suasana Jalan Braga
benar-benar segar dan menyenangkan.
Marilah kita lihat perbendaharaan
karya arsitektur yang kita miliki
di Jalan Braga. Beberapa bangunan
bergaya Art Deco yang menjadi
bahan diskusi para pakar dunia
berada di Bandung, yaitu: Gedung
IKIP, Hotel Savoy Homann, dan
Gedung BPD. Satu dari tiga gedung-gedung
tersebut berada di Jalan Braga,
yaitu Gedung BPD, dan interaksi
antara Gedung BPD dan Hotel Savoy
Homann terasa begitu kuat karena
Hotel Savoy Homannpun berada
begitu dekat dengan Jalan Braga.
Pencarian jati diri arsitektur
Indonesia yang juga dilakukan
oleh beberapa arsitek bangsa
Belanda menghasilkan gaya paduan
antara gaya tradisional Indonesia
dengan kemajuan teknik konstruksi
barat. Gaya ini disebut Indo
Europeeschen Arsitektuur Stij.
Hasil dari pencarian jati diri
ini berbeda pada setiap arsitek,
sesuai dengan wawasan dari arsitek
itu sendiri.
-------------------------------
Ir. David Bambang Soediono, Pengurus
Bandung Society for Heritage
Conservation, Bidang Lingkungan
Alam dan Binaan. Staff Pengajar
di Universitas Parahyangan jurusan
Arsitektur.