Naik
kereta api, tut tut tut, 
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya,
Bolehlah naik dengan percuma,
Ayoh kawanku lekas naik,
Kretaku tak brenti lama.
(Nyanyian Murid S.D.)
Ada beberapa faktor
penyebab yang telah mempercepat
kebangkitan Kota Bandung
jaman baheula. Sebagaimana
telah disinggung di depan,
pembukaan daerah perkebunan
di Wilayah Priangan, adalah
salah satu faktor pendorong
perttimbuhan Kota Bandung.
Tidak kurang pentingnya
sebagai faktor akselerasi,
adalah pemasangan rel kereta
api dari Batavia ke Bandung,
lewat Bogor dan Cianjur
yang diresmikan pada tanggal
17 Mei 1884, tepat seabad
yang lalu.
Pada tahap berikutnya,
hubungan kereta api dilanjutkan
menuju Cilacap dan kemudian
ke Surabaya lewat Yogyakarta.
Jadi pada masa lalu,
perjalanan dengan menggunakan
kereta api dari Batavia
ke Surabaya, harus lewat
Kota Bandung. Karena jalur
rel kereta api lewat pesisir
utara Pulau Jawa yang menyinggahi
Kota Cirebon dan Semarang
belum ada. Jalur rel kereta
api lewat selatan lebih
dulu dibangun dari pada
jalur lewat utara.Hal itu
jelas tercermin dalam lirik
lagu anak-anak di atas.
Lirik lagu tadi menyatakan
ke Bandung dulu, baru kemudian
ke Surabaya. Lirik lagu
tersebut tidak berbunyi
ke Semarang Surabaya atau
ke Cirebon, Surabaya, sebab
jalur K.A. memang belum
lewat sana.
Agaknya, lagu "Naik Kereta
Api" pada awal mulanya
dinyanyikan oleh anak-anak
di Jakarta (Batavia). Yang
jelas ngibul dalam lirik
lagu tadi adalah: "Bolehlah
naik dengan percuma". Mana
mungkin, orang masuk stasion
saja musti bayar karcis
peron.
Kalau kita sampai "kebandang" kereta
api tanpa sengaja, asalkan
mengantongi karcis peron,
paling juga harus membayar "supplitie" (tambahan).
Namun di stasion pemberhentian
yang pertama kita diturunkan
dari kereta.
Tanpa karcis peron di saku,
dalam peristiwa semacam
itu, di jaman baheula yang
tertib dan keras menjalankan
hukum, anda pasti bakal
berhadapan dengan "hamba
wet".
Repot jadinya. Kalau jaman
kiwari, petugas bisa dibentak
penumpang. Kedatangan jalur
kereta api ke wilayah pegunungan
Priangan, merupakan atraksi
yang mencengangkan bagi
penduduknya, terutama buat
orang udik. Sampai tahun
1930-an, masih banyak kita
saksikan "orang gunung" yang
turun ke Bandung, berbekal
nasi-timbel atau leupeutgorengan,
cuma mau nonton lokomotif
(Sunda: hulu kareta !)
yang mereka beri nama julukan "si
Gombar
Si Gombar adalah lokomotif
jalur pegunungan ("Berglijn
Locomotief ') yang modern
dari serf nomor "D.D".
Yang berarti memiliki 8
buah roda-besar di depan,
berpasangan . empat-empat
("D.D"). Si Gombar buatan
pabrik tahun 1924, memang
ideal sekali buat melalap
tanjakan-tanjakan berat
, wilayah pegunungan Priangan,
sambil mengangkut hasil
per kebunan.
Di jembatan besi lintas
rel kereta api (Viaduct)
Jl. Pasirkaliki Bandung
yang dibangun oleh Biro
Tehnik "De Unie" tahun
1923, adalah tempat orang
menunggu kedatangan si
Gombar. Dan menonton lokomotif
ini selagi dilangsir.
Jarang sekali orang mengungkapan
dampak dari kedatangan
jalur kereta api ke Kota
Bandung. Bagaimana pengaruhnya
terhadap perkembangan kota.
Dan yang lebih penting
lagi, apa peranan alat
transpor keteta api dalam
menunjang perkembangan
ekonomi Kota Bandung dan
wilayah Priangan pada umumnya.
Tatkala jalur kereta api
yang menghubungkan Batavia
- Surabaya cuma ada satu
lintasan lewat selatan
Pulau Jawa, maka Kota Bandung
merupakan tempat "stop
over", alih kereta buat
para penumpang.
Dari Jakarta ke Bandung
ada empat formasi kereta
dalam sehari, yang dinamakan "Viugge
Vier" ("Empat Cepat !"),
yang mulai diadakan pada
tanggai 1 Nopember 1934:
Empat formasi kereta api
Batavia - Bandung ini menjalani "jalur
baru" lewat Cikampek Purwakarta
yang ditempuh "persis tepat" dalam
24 jam !
Itulah sebabnya, dengan
rasa bangga, Perusahaan
Kereta Api Negara ("Staats
Spoorwegen"/ "SS") memasang
iklan segede gajah di koran-koran
pada waktu itu dengan teks"TEN
TIME VAN G.G. DAENDELS,
reisde men met snellepostpaarden
van Bandoeng ' naar Batavia
IN 24 DAG. THANS met 'DE
VLUGGE 4' IN 24 UUR!" (Lihat
Iklan di Majalah, "MOOI
BANDOENG", Maart 1935).
Artinya : "Pada jaman Gubernur
Jenderal Daendels, orang
melakukan perjalanan dengan
Kereta Pos tercepat dari
Bandung ke Jakarta, makan
waktu 24 hari. Sekarang
dengan 'Empat Cepat' cuma
dalam 24 jam!" Iklan tadi
titutup dengan motto : "Staats
Spoor Steeds Sneller" ("4S").
Artinya : "Kereta Api Negara
Selalu Lebih Cepat !"
Mungkin kalau sekarang,
motto tadi berbunyi: "PJKA
Selalu Cepat". "Apa iya
?
Adapun hubungan Kereta
Api Bandung - Surabaya,
jaman baheula, ada dua
formasi kereta ekspres.
Yaitu, satu formasi kereta
ekspres Malam atau biasa
disebut "Nacht Trein" dan
yang satunya lagi adalah
Ekspres Siang yang menempuh
Bandung -,Surabaya dalam
sehari. Makanya Kereta
Ekspres Siang ini dinamakan "Eendagsche" (sehari
perjalanan).
Tatkala Bandung masih jadi
tempat alih kereta ("stop
over") buat penumpang perjalanan
Batavia - Surabaya, banyak
manfaat dan keuntungan
yang diperoleh warga Kota
Bandung.
Para penumpang kereta api
yang kelelahan di perjalanan,
memerlukan penginapan dan
makan enak tentu saja.
Maka pada tahun-tahun "belasan" itulah,
tumbuh seperti jamur di
musim hujan, hotel, losmen
dan rumah penginapan murah
di daerah sekitar Stasion
Bandung. Antara lain di
JL. Gardujati, JL Kebonjati,
Kebon Jeruk, Belakang Pasar,
Gg. Suniaraja, JL. Pasar
Baru dsb. Inklusip daerah “lampu-merah"
(W'TS) di selatan setasion.
Hotel yang agak lumayan
sekitar Stasion Bandung
tempo doeloe antara lain: "Hotel
Andreas" di depan Stasion
KA. dan "Grand National
Hotel" (Kantor Pusat PJKA
sekarang ! ) yang khusus
diperuntukkan bagi Penggede
Belanda.
Meningkatnya kegiatan pada
sektor "perhotelan" di
Kota Bandung, merupakan
salah satu dampak dari
kedatangan jalur kereta
api ini.
Dampak lainnya yang tidak
kurang membawa keuntungan
kepada masyarakat Kota
Bandung tempo doeloe, adalah
makin banyaknya restaurant,
rumah makan, warung nasi,
Toko P & D dan jenis lainnya.
Memang sebenarnyalah Kota
Bandung pada masa sebelum
Perang Dunia II terkenal
sebagai kota yang paling
banyak memiliki Rumah Makan
(Lihat : Japen Kobes Bandung, "Pedoinan
Kota Besar Bandung", 1956).
Sedangkan "Pasar Baru" yang
terletak di pusat kota,
tidak terlalu jauh dart
stasion, di jaman baheula
jadi pangkalan manusia
'kalong' yang suka begadang
malam. Pasar Baru buka
secara non-stop 24 jam.
Segala jenis makanan mentah
maupun matang ada di situ.
Pasar yang tak pernah tidur
itu, terjaga kebersihan
dan keamanannya berkat
penanganan Tuan Van Broeks
yang galak. Belanda totok
dengan wajah merah, macam
udang rebus itu, adalah
Kepala Pasar yang sangat
dipatuhi oleh para pedagang.
Sehingga Pasar Baru pada
masa sebelum perang, pernah
menjadi contoh dalam kerapian
mengatur dagangan dan kebersihan
bagi pasar-pasar induk
lainnya di kota-kota Pulau
Jawa.
Buat mereka yang suka mengudap
jajan makanan, Pasar Baru
tempo doeloe sanggup memuaskan
selera. Lewat penuturan
Pak Suka bisa kita ketahui
bursa makanan tempo doeloe
itu.
Soto, yang dua sen semangkok
itu, sudah terkepung krupuk
Cikoneng, ya besar ya tebal.
Sate sepuluh tusuk masih
bisa ditawar sampai delapan
sen. Kalau dagangan lagi
sepi,
tiga benggol pun jadilah.
Sedangkan nasi, harganya
lima sen sepiring sudah
tumpah ruah kuahnya. Beli
nasi putih saja, bisa gratis
disiram gulai tempe pakai
cabai yang terasa serehnya.
Atau mau pilih sayur kentang
pakai irisan tahu yang
tercium bau petenya, itu
pun boleh. Lonjoran cabe
hijau dibumbu "besengek" bisa
juga mengantar nasi lewat
tenggorokan. Ini pun masih
ditambah sekerat daging
empal yang disayat miring
disiram kuah "mabek kelewek".
Berbagai macam sayur ditampung
dalam baskom besar, diciduk
dengan ciduk kaleng gagang
bambu.
Konon termasuk royal, orang
yang minta nasi saja dan
memilih sendiri, lauk pauknya.
Tinggal ambil asal bayar
: telor-asin, goreng ikan
emas yang tidak dikeluarkan
isi-perutnya biar kelihatan
kembung, goreng belut atau
ikan tawes, dendeng, telor
mata sapi dibumbu bali,
tahu,tempe dan semur jengkol
bagi yang suka.
Di ujung batang pikulan,
menjurai ikatan daun lalab
dan rebus/bakar pete yang
harganya sebenggol sepapan.
Tipu daya pedagang sudah
dikenal orang.Yang lucu.
tukang, jual tomat, Meskipun
mata terpejam, tidur-tidur
ayam, tapi tangan tetap
mengelus-ngelus tomat,
dagangannya dengan sehelai
sapu tangan, biar mengkilap
menarik mata pembeli. Lain
lagi dengan tukang dagang
buah mangga, yang sibuk
memupur kapur dagangannya,
biar nampak seperti mateng
pohon.
Begitulah gambaran kehidupan
malam di Pasar Baru Bandung
jaman baheula, yang selalu
begadang. (Baca: Buku Bacaan
Sunda,”Kandaga” Seri
B., 1957).
Jadi buat musafir kelana
yang kemalaman di Bandung
pada jaman dulu, mereka
tak perlu kuatir kelaparan.
Mereka bisa mampir Pasar
Baru atau masuk Feestterrein
(Taman Hiburan Rakyat)
di Alun-alun Bandung yang
menyajikan segala macam
hiburan dan makanan, semalam
suntuk.
Lapisan masyarakat Kota
Bandung lainnya yang kecepretan
rejeki dengan singgahnya
kereta api adalah para
kusir sado, delman dan
kretek yang kala itu pegang
peranan di jalanan.
Bunyi pluk-plik-plok plik-pluk
dan ting-neng ting-neng,
adalah suara khas Bandung
baheula. Terkadang suara
itu diseling bunyi, dodolit-dodoli-bret
yang berasal dari tuter
Mobil Kuno yang mulai berkeliaran.
Patut dicatat bahwa pada
tahun 1884, mula pertama.
hubungan K.A. dibuka di
kota, jumlah penumpang
yang turun-naik lewat Stasion
Bandung, selama setahun
32.000 orang penumpang.
Dengan jumlah angkutan
barang (bagasi) seberat
9.250 ton.
Tigapuluh tahun kemudian
(1914), banyak penumpang
per tahun 1.307.000 orang,
dengan muatan barang sebesar
244.700 ton (H.LH., "Almanak
Voor Bandoeng", 1941).
Angka-angka di atas cukup
berbicara, akan besarnya
peranan kereta api bagi
hubungan Kota Bandung dengan
daerah luar.
Pemasangan jalur rel kereta
api ke Priangan besar sekali
dampaknya terhadap perkembangan
ekonomi Kota Bandung dan
wilayah sekitarnya. Terutama
sekali setelah beberapa
jalur simpang K.A. dibangun
untuk menghubungkan Bandung
dengan beberapa kota kecil
yang terletak di "hinterland" sekelilingnya.
Pemasangan rel K.A. ini
sebenarnya dititik-beratkan
pada fungsinya sebagai
1. Alat
angkutan hasil produksi
perkebunan Wilayah Priangan,
yang kala itu menjadi barang
komoditi ekspor yang laku
keras di pasaran dunia.
2. Sarana
pendukung dalam rencana
pemekaran wilayah Gemeente
Bandung di tahun 1919.
Sebagaimana diketahui,
hasil produksi utama onderneming
di sekitar Bandung, adalah
teh, kina, kopi dan karet.
Pada jaman kolonial, wilayah
West Java (Jabar) merupakan
daerah pilihan lokasi perkebunan
jenis tanaman ekspor.
Sejak berlakunya U.U. Agraria
tahun 1970, yang mengakui
hak milik tanah Bangsa
Indonesia maupun Pemerintah
Kolonial Belanda, maka
Jawa Barat kala itu memiliki
lebih dari 80% perkebunan
teh dan kopi yang ada di
Indonesia. Bahkan perkebunan
kina seluruhnya terdapat
di Priangan (N.H.M., "Handboek
voor Cultuur-Handelsondernemingen
in Nederlandsch-Indie",
1940).
Mengingat besarnya potensi
ekonomi perkebunan di Wilayah
Priangan, sebagai salah
satu sumber pendapatan
negara, maka daerah itu
telah mendapat prioritas
utama dalam pembangunan
jaringan rel kereta api.
Kota Bandung baru mendapatkan
statusnya sebagai "Gemeente" pada
tanggal 21 Pebruari 1906
dan Burgemeesternya yang
pertama Tuan B. Coops yang
terpilih pada tanggal 1
Juli 1917.
Sebagaimana telah dikisahkan,
sebelum Kota Bandung memiliki
seorang walikota (Burgemeester),
pengelolaan kota dipimpin
oleh seorang Asisten Residen
Priangan.
Di bawah pengelolaan Meneer
B. Coops sebagai walikota
(1917-1928), Bandung mengalami
masa pembangunannya tahap
ke-2, setelah jaman Pieter
Sijthoff yang meninggalkan
Bandung pada tahun 1904.
Selang beberapa tahun setelah
Gemeente Bandung diresmikan,
Pemerintah Pusat Hindia
Belanda di Batavia, telah
membentuk "Commissie voor
de Beoordeeling van de
Uitbreidingsplannen der
Gemeente Bandoeng" (Komisi
Untuk Penilaian Terhadap
Rancangan Pemekaran Gemeente
Bandung) yang diketahui
oleh Meneer E.H. Karsten
(bukan Ir. Thomas Karsten).
Oleh sebab itu Komisi itu
sering disebut “komisi
Karsten" yang terkenal
dengan "Plan Karsten" yang
berupa sebuah konsep "Rancangan
Pemekaran Kota Bandung" dalam
tiga macam alternatip
.
Dalam sebuah Risalah No.
4 Tanggal 12 Agustus 1919
yang ditujukan kepada Burgemeester
van Bandoeng Tuan B. Coops,
telah dilaporkan hasil
penelitian dan penelaahan
pendahuluan Kota Bandung
yang dilakukan oleh Komisi
Karsten.Risalah dari Komisi
Karsten tersebut menjelaskan
bahwa
1. Kota Bandung yang terbagi
oleh Sungai Cikapundung
menjadi dua bagian; West
Bandoeng (Bandung Barat)
dan Oost-Bandoeng (Bandung
Timur) telah berkembang
dengan tidak seimbang Perkembangan
kota lebih "berat" ke sebelah
barat.
2.Hampir 2/3 jumlah penduduk
bermukim di Bandung Barat.
3. Kegiatan perdagangan
sehari-hari sangat berpusat
di daerah Pecinan (Chineezenwijk)
sekitar Pasar Baru. Kecenderungan
pemusatan kegiatan sosial-ekonomi
penduduk cuma di satu daerah
saja, jelas tidak menguntungkan
untuk "penataan" kota di
kemudian hari.
4. Hasil penjualan ("omzet")
di Pasar Baru hampir 5
kali lebih besar dari apa
yang diperoleh di Pasar
Andir atau Kosambi.
Laporan dari Komisi Karsten
itu memperkuat "saran" yang
telah disampaikan oleh
Meneer H. Heetjans, Directeur
van Gemeente Werken (Kepala
P.U.) kepada Walikota Bandung
B. Coops.
Saran tersebut yang telah
disampaikan lewat Surat
Rahasia ("Geheim") No.
215/Gr Tanggal 25 April
1918 menyatakan bahwa.
1. Pusat
Kota Bandung secara teoritis
terletak antara Pasar Baru
dan Alun-Alun, kira-kira
di sekitar Penjara (Banceuy).
2. Kegiatan
perdagangan yang "menumpuk
di pusat Kota Bandung mengakibatkan
kenaikan harga tanah di
sekitar Alun-Alun. Pada
tahun 1918, untuk setiap
1 M2 lahan tanah di Alun-Alun
mencapai harga f.40,-.
Sedangkan di Kacakaca Wetan
(Prapatan Lima) yang jadi
batas timur Kota Bandung
kala itu, harga tanah f.10,-
per M2.
3. Agar
segera diambil langkah
untuk menyebarkan (dekonsentrasi)
dari pusat-pusat kegiatan
penduduk secara seimbang
ke segenap penjuru kota.
Sehingga Kota Bandung kelak,
bakal merupakan sebuah
kota yang memiliki banyak
pusat kegiatan ("multi
centres").
4. Kegiatan
perdagangan yang hanya
berpusat di Pasar Baru
harus dipindahkan dan disebar
ke lokasi bare, dengan
membangun beberapa pasar
lainnya di dalam Kota Bandung.
5. Adapun
pasar sebagai "pusat kegiatan'=
penduduk, dapat dijadikan
wahana untuk pemekaran
Kota Bandung.
6. Untuk
mengembangkan Kota Bandung
secara seimbang, maka di
arah timur dibangun Pasar
Kosambi, Pasar Cicadas
dan Pasar Kiaracondong.
Untuk Bandung Baral7 dibangun
Pasar Andir clan Pasar
Ciroyom. Sedangkan di arah
selatan kota dibangun Pasar
Tegallega dan Pungkur.
7. Atas
dasar "nota" dari Kepala
Dines.Kereta Api dan Tram
Negara (Het Hoofd ven den
Dienst der Staatsspoor
en Tramwegen) dapat diketahui
bahwa lebih dari 80% penumpang
yang turun di stasiun Bandung,
adalah para "penumpang
lokal" dari kota-kota kecil
sekitar Bandung yang mengadakan
perjalanan dengan menumpang
kereta api setiap hari
("commuters"), untuk keperluan
berdagang atau berbelanja
ke Pasar Baru. Maka untuk
mengurangi arus penumpang
kereta api yang turun di
Stasion Bandung dengan
tujuan perjalanan ke Pasar
Baru, dipilihlah alternatif
ke-3 dari Rancangan Pemekaran
Kota Bandung dari Komisi
Karsten (Plan.III).Dalam
Plan.III telah ditentukan
lokasi untuk tempat pemberhentian
penumpang ("Personenstation")
pada jalur kereta api yang
berdekatan dengan pasar,
kompleks pemukiman baru,
daerah industri, dan daerah
pusat kerja lainnya.
8. Alternatip
ke-3 Plan Karsten telah
memadukan pemekaran Kota
Bandung dengan pembangunan
pasar, pemasangan jalur
rel K.A setta penentuan
nalte baru.
9. Secara
berturut-turut dibangun
Halte Andir untuk para
penumpang K.A. yang akan
menuju Pasar Andir. Halte
Ciroyom untuk pengunjung
Pasar Ciroyom, Halte Cikudapateuh
untuk Pasar Kosambi dan
daerah pemukiman baru Jl.
Riau, Halte Kiaracondong
untuk pengunjung Pasar
Kiaracondong.
10. Bahkan
bagi para penumpang K.A.
yang ingin turun di daerah
sekitar Insulinde Park
yang tergolong sebagai "Pusat
Kegiatan Masyarakat Eropa" ("Europeesche
Zakenwijk" telah dibangun
halte di Jl. Jawa (sekarang
sudah tidak ada). Untuk
penduduk sekitar "Prapatan
Lima" (Ngawur, per"empat"-an
koq lima!) yang memerlukan
jasa angkutan kereta api,
maka telah dibangun halte
di Karees (JI. Gatot Subroto
sekarang).
Lewat saran Tuan H. Heetjans
kepada Walikota Bandung
Tuan B. Coops, tentang
Rancangan Pemekaran Kota
Bandung tadi, terbukti
bahwa kereta api telah
menjadi sarana penunjang
bagi pemekaran kota.
Mengingat bahwa pemekaran
Kota Bandung ditujukan
ke arah timur dan selatan,
maka jalur rel kereta api
yang menghubungkan Bandung
dengan hinterland sekitarnya,
mengambil arah melingkar
ke timur kemudian ke selatan.
Menurut cerita Pak Kunto
(ayah penulis) yang pernah
jadi Kepala Stasion .Cimahi,
Cibatu, Bandung pada tahun
1930-an, berpergian dengan
kereta api pada jaman baheula,
merupakan atraksi wisata
lokal bagi penduduk pedesaan
di sekitar Kota Bandung.
Dengan istilah "nyaba ka
dayeuh" (pergi ke kota)
mereka berbondong pergi
ke "dayeuh" Bandung.
Dayeuh adalah sebutan populer
masa itu untuk Bandung.
Jadi bila ada calon penumpang
K.A. yang mengatakan "Dayeuh" di
depan loket karcis sebuah
halte kecil sekitar Bandung,
jelas kota tujuan yang
dimaksud adalah Kota Bandung.
Adapun jalur rel kereta
api yang dibangun di wilayah
hinterland Kota Bandung
pada awal Abad ke-20, bukan
hanya berfungsi sebagai
sarana angkutan penumpang
dan hasil perkebunan saja,
akan tetapi juga telah
dapat mengintegrasikan
perekonomian dari wilayah
Dataran Tinggi Bandung.
Kotakota kecil yang dihubungkan
oleh jalan kereta api ke
Kota Bandung tempo doeloe,
meliputi trayek sebagai
berikut
Tanggal 23 Pebruari 1918
dibangun jalur rel K.A.:
Bandung - Rancaekek - Jatinagor
- Tanjungsari - Citali.
Yang direncanakan terus
ke Sumedang, namun tak
pernah jadi kenyataan.
Trayek "Trem" Bandung
ke Kopo pada tanggal 1
Juni 1918, dan diteruskan
ke Ciwidey (18 Maret 1921).
Lintas K.A. dart Bandung
- Citeureup - Majalaya
(6 Juni 1919) pada jalur
yang sama dibangun pula
lintasan rel K.A Citeureup
- Banjaran - Pangalengan,
yang rampung dikerjakan
pada tanggal 18 Maret 1921
(Lihat : BLMC. Perquin, "Nederlandsch
Indische Staatsspoor en
Tramwegen", 1921).
Untuk menampung dan menyimpan
hasil perkebunan yang diangkut
K.A. itu, dibangunlah gudang-gudang
penimbunan barang di Kota
Bandung.
Adapun lokasi gudang-gudang
tadi terletak di: Cibangkong,
Cikudapateuh, daerah Kosambi/
Jl. Gatot Subroto, Kiaracondong,
Jl. Braga, sekitar Stasion
Bandung, Jl. Pasirkaliki,
Jl. Industri, Ciroyom dan
Andir.
Sebagian dari gudang-gudang
itu masih bisa kita temui
sampai sekarang. Begitu
baiknya pelayanan "S.S." (Staats
Spoor) pada masa itu, hingga
untuk mencapai efisiensi
dalam pengangkutan, gudang-gudang
tadi dihubungkan dengan
jalur K.A. ("sppor simpang
!").
Perusahaan Pergudangan
yang terkenal di Bandung
tempo doeloe, antara lain "Java
Veem" yang dibaca oleh
Mang Anang jadi "Japapem"; "Veem
Tanjoeng Priok" di Jl.
Braga dan jaringan usaha
pergudangan milik Cina
kaya dari Semarang "Oei
Tiong Ham".
Dengan mundurnya permintaan
hasil perkebunan Priangan
di pasaran dunia, maka
sedikit demi sedikit jalur
K.A. itu tidak lagi dipergunakan.
Apalagi setelah kendaraan
bermotor
truk yang lebih fleksibel
mengangkut muatan "door
to door", mulai beroperasi
di ka wasan Bandung, maka
fungsi K.A. cuma jadi alat
angkutan penumpang. Yang
nota bene, tidak begitu
menguntungkan.
Maka berlalulah masa "keemasan" si
Kuda Besi di wilayah dataran
tinggi Bandung. Sayang.
Namun bagaimana pun juga,
kereta api telah memberikan
andilnya yang sangatbesar
dalam "awal kebangkitan" Kota
Bandung.
Kota Bandung yang semula
cuma "kota pegunungan mungil" yang
sering disebut orang sebagai "Schoone
Slaapster" ("Putri cantik
yang lelap ketiduran"),
kemudian tersentak bangkit
dari alam mimpinya gara-gara
kena cium Sang Pangeran
seperti dalam kisah "La
Belle au Bois Dormant".
Siapakah Sang Pengeran
itu ?
Dia adalah "Si Kuda Besi" yang
dibawa oleh Perusahaan
Kereta Api Negara ("Staats
Spoor") yang berhasil membangunkan "si
putri penidur" dan membukakan
isolasi dirinya dengan
dunia luar (S.A. Reitsma, "Korte
Geschiedenis dern Nederlandsch
- Indische Spoor en Tramwegen",
1928).
Namun rupanya "The Sleeping
Beauty" alias "Mojang
Geulis Beuki Molor" kata
Urang Sunda; sekarang lagi
terjangkit penyakit "ngorok",
terus-terusan molor. Kota-kota
lain sudah pada "bangun" subuh,
eh eh, Neng Geulis kita
masih ketiduran.
Kalau toh bangun, Kota
Bandung seperti Sangkuriang; "membangun" kesiangan
!
Oleh sebab itu warga kota
Bandung, mari kita bangunkan
Neng Geulis kita : "Bangun,
bangun, bangun ! Hari sudah
siang !"... .
Sumber:
Disadur dari Buku Wajah
Bandoeng Tempo Doeloe,
Penulis : Haryoto Kunto,
PT. Granesia. Cetakan Ke.
I April 1984, Cetakan Ke
II Mei 1984 dan Cetakan
Ke III April 1985.
|